Rabu, 19 Januari 2011

Guru Harus Dapat Memotivasi dan Menghargai Siswa


Sebagai seorang guru, kita memiliki berbagai tanggung jawab dan tugas yang harus dilaksanakan sesuai dengan tuntutan profesi guru.Tugas utama dan terpenting yang menjadi tanggung jawab seorang guru adalah memajukan, merangsang dan membimbing siswa dalam proses belajar. Segala usaha kearah itu harus dirancang dan dilaksanakan.
Guru yang berkesan dalam menjalankan tugasnya adalah guru yang berhasil menjadikan siswanya termotivasi dalam pelajaran. Oleh karena itu agar lebih berkesan dalam pengajaran, guru harus berusaha memahami makna motivasi belajar itu sendiri dan mengembangkan serta menggerakkan motivasi pembelajaran siswa ke arah yang lebih baik.
Guru dapat memahami motivasi belajar jika sewaktu mengajar dia dapat melaksanakan langkah-langkah seperti berikut:
1. Mengenal pasti tingkat kecerdasan para siswanya.
2. Melaksanakan teknik memotivasi siswa.
3. Merumuskan tujuan belajar dan mengaitkan tujuan itu dengan keperluan dan minat siswa.
4. Menerapkan kemahiran bertanya kepada siswa.
5. Melaksanakan aktivitas pengajaran dengan urutan yang sistematik.
6. Melaksanakan penilaian diagnostik.
7. Melaksanakan komunikasi interpersonal.
Memotivasi siswa merupakan salah satu langkah awal yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam pengajaran dan pembelajaran. Jika guru telah berhasil membangun motivasi siswa selama  pembelajaran berarti guru itu telah berhasil mengajar. Namun pekerjaan ini tidaklah mudah. Memotivasi siswa tidak hanya menggerakkan siswa agar aktif dalam pelajaran, tetapi juga mengarahkan dan menjadikan siswa terdorong untuk belajar secara terus menerus, walaupun dia berada di luar kelas maupun setelah meninggalkan sekolah.
Untuk meyakinkan kita bahwa memotivasi siswa dalam belajar merupakan tugas guru dan kewajiban, maka pendekatan behavioristik perlu kita jadikan pedoman dalam mengajar. Para pakar behavioristik mengemukakan bahwa motivasi ditentukan oleh lingkungan. Guru merupakan lingkungan yang sangat berperanan di dalam proses belajar. Oleh kerana itu, meningkatkan motivasi siswa dalam pelajaran merupakan tugas yang sangat penting bagi guru.
Mengapa usaha memotivasi siswa itu sangat penting bagi guru? Sebagian guru mungkin beranggapan bahwa tugas mereka sebagai guru hanyalah mengajar saja, bukan menimbulkan minat siswa terhadap apa yang mereka ajarkan. Guru-guru seperti ini menghabiskan waktu mereka di dalam kelas semata-mata hanya untuk menuangkan bahan pelajaran kepada siswanya. Mereka tidak peduli apakah isi pelajaran yang mereka ajarkan atau yang mereka terangkan itu dapat diterima oleh siswa. Mereka tidak memperhatikan apakah bahan yang mereka ajarkan itu bermanfaat dan mempengaruhi tingkah laku atau perkembangan siswa ke arah yang positif. Guru-guru seperti ini tidak menyedari bahwa anak-anak yang tidak berminat tidak akan dapat menerima pelajaran dengan baik.
Siswa yang tidak berminat terhadap apa yang diajarkan oleh guru tetapi dia diharuskan mempelajarinya, dapat menimbulkan suatu perasaan benci terhadap mata pelajaran itu, bahkan untuk selanjutnya siswa itu tidak akan tertarik mempelajarinya. Di dalam kelas yang kita ajar mungkin kita akan mendengar anak-anak berkata, "Saya tidak mampu belajar Matematika" atau "Saya tidak dapat belajar IPA." Jika kita teliti permasalahannya, bukan kerana kedua  mata pelajaran tersebut sukar atau tidak menyenangkan, tetapi kerana guru kedua mata pelajaran itu tidak menggunakan strategi yang berkesan, sehingga siswa tidak tertarik untuk mempelajarinya. Siswa tidak termotivasi, malahan merasakan mata pelajaran tersebut menjadi menyiksa mereka.
Guru seharusnya menggunakan waktu yang banyak untuk memotivasi siswanya. Siswa yang termotivasi dengan baik dalam pelajaran akan melakukan lebih banyak aktivitas dan lebih cepat belajar jika dibandingkan dengan siswa yang kurang atau tidak termotivasi saat belajar. Ini menandakan bahwa, jika guru dapat membangunkan motivasi siswa terhadap pelajaran yang diajarkan maka diharapkan siswa tersebut sentiasa akan meminati mata pelajaran tersebut.
Sesungguhnya usaha memotivasi siswa dalam pendidikan adalah merupakan suatu proses (1) membimbing siswa untuk memasuki berbagai pengalaman yakni proses belajar sedang berlangsung; (2) proses menimbulkan semangat dan keaktifan pada diri siswa sehingga dia benar-benar bersedia untuk belajar; dan (3) proses yang menyebabkan perhatian siswa tertumpu kepada satu arah atau tujuan pada satu waktu, yaitu tujuan belajar.
Situasi kelas yang siswa-siswanya termotivasi dapat mempengaruhi sikap belajar dan tingkah lakunya. Siswa yang termotivasi untuk belajar akan sangat tertarik dengan berbagai tugas belajar yang sedang mereka kerjakan, menunjukkan ketekunan yang tinggi, variasi aktivitas belajar mereka pun akan lebih banyak. Di samping keterlibatan mereka dalam belajar lebih besar, mereka juga kurang menyukai tingkah laku negatif yang dapat menimbulkan masalah disiplin.
Oleh kerana itu, dalam upaya menjaga dan meningkatkan disiplin kelas maka motivasi siswa mesti dipertimbangkan. Ini bermakna meningkatkan motivasi siswa dalam belajar merupakan suatu cara yang baik dalam menghindari tingkah laku siswa yang negatif, kerana mereka terlibat aktif dalam belajar dan terangsang untuk belajar.
Sebenarnya tujuan jangka panjang dalam membangun dan mengembangkan motivasi pelajar dalam belajar adalah terbentuknya motivasi kendiri. Kita sebagai guru ingin agar pelajar selalu terdorong untuk mengembangkan minatnya untuk belajar walau di mana pun dia berada. Kita berharap agar pelajar-pelajar kita sentiasa ingin menimba pelbagai ilmu pengetahuan walaupun mereka telah lepas dari bimbingan kita. Tujuan pendidikan yang paling utama adalah untuk membangkitkan dalam diri pelajar suatu motivasi yang kuat dan terus menerus untuk belajar. Hal ini akan menjadi suatu kecenderungan dan kebiasaan dalam melakukan proses belajar selanjutnya.
Yang menjadi persoalan sekarang ialah bagaimana caranya kita saat melakukan berbagai usaha untuk membangun dan mengembangkan motivasi pelajar saat belajar? Para pakar Humanistik, misalnya Carl Rogers, seorang pakar psikologi mengemukakan bahwa pada dasarnya di dalam diri setiap manusia ada keinginan yang sangat kuat untuk belajar yang bersifat alami. Jadi, di dalam diri anak keinginan itu sudah ada. Guru hanya mengembangkan atau memupuk keinginan itu sehingga keinginan belajar itu dapat direalisasikan dalam bentuk prestasi yang maksimum. Para pakar Behavioristik lain, misalnya B.F. Skinner, seorang pakar pendidikan mengemukakan bahawa motivasi siswa sangat ditentukan oleh lingkungannya. Siswa akan termotivasi saat belajar jika lingkungan belajar dapat memberikan rangsangan sehingga siswa tertarik untuk belajar. Guru harus mengatur lingkungan atau suasana belajar secara bijaksana sehingga siswa termotivasi untuk belajar.
Dalam proses belajar mengajar, guru dituntut memiliki berbagai pengetahuan dan pemahaman yang bermanfaat untuk menimbulkan dan meningkatkan motivasi siswanya selama belajar, sehingga proses belajar yang dibimbingnya berhasil secara optimal. Oleh kerana itu, guru perlu memahami dan menghayati serta menerapkan berbagai prinsip dan teknik-teknik untuk membangkitkan dan meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran. Memang banyak sekali prinsip dan teknik yang berbeda-beda yang perlu diketahui oleh guru, kerana di dalam usaha memotivasi siswa sesungguhnya tidak hanya satu prinsip dan teknik yang paling mujarab dipakai untuk semua siswa, sepanjang waktu, dan untuk semua situasi. Berbeda mata pelajaran, berbeda keperibadian siswa, dan berbeda keperibadian guru menuntut perbedaan prinsip dan teknik yang dipakai dalam memotivasi siswa. Oleh kerana itu, perbedaan mata pelajaran, keperibadian siswa dan keperibadian guru harus dipertimbangkan dalam memilih prinsip-prinsip dan teknik-teknik yang akan dipakai dalam memotivasi siswa.
Di dalam kelas yang siswa-siswanya terdiri dari kelompok yang memiliki kemampuan yang sama namun berbeda keperibadian dan minat, variasi prinsip-prinsip dan teknik-teknik yang dipakai akan lebih banyak. Di dalam kelas mungkin kita akan menemui beberapa orang siswa yang mampu memotivasi dirinya sendiri. Siswa seperti ini tidak banyak memerlukan pertolongan dari guru untuk merangsang minat mereka dalam belajar, kerana mereka mampu mendorong diri mereka sendiri. Kebanyakan siswa akan mempunyai motivasi belajar jika kita menggunakan berbagai teknik untuk memotivasi mereka, namun ada pula sejumlah siswa yang baru akan termotivasi jika kita melakukan usaha-usaha khusus bagi mereka. Oleh kerana itu kita sebagai guru hendaklah fleksibel dalam memakai berbagai pendekatan dalam merangsang minat siswa dalam belajar, serta mampu menerapkan berbagai prinsip dan teknik yang berbeda sesuai dengan keperluan masing-masing siswa.
Selain itu untuk meningkat motivasi siswa dalam belajar guru perlu menghargai siswanya. Sebagaimana kita ketahui bahwa setiap manusia memiliki harga diri atau self esteem. Harga diri setiap pribadi merupakan komponen yang bersifat emosional dan paling menentukan sikap kepribadian kita (Adi W Gunawan, 2003).
Harga diri merupakan kunci keberhasilan dalam hidup dan ''aset pribadi'' siswa yang harus dikembangkan, diolah, dan dihidupkan terus. Aset pribadi ini hendaknya dapat dimanfaatkan oleh guru menjadi salah satu dasar strategi dalam pengelolaan kelas yang harus dikuasai oleh guru dalam peranannya sebagai fasilitator dalam belajar.
Guru diharapkan mampu menghidupkan, mengangkat, dan memelihara harga diri siswa karena pengangkatan harga diri siswa ini akan membuat siswa menjadi lebih bersemangat, antusias, dan akhirnya mempunyai motivasi diri yang tinggi dalam belajar. Selain itu, guru yang mampu mengangkat dan memelihara harga diri siswa juga akan memberi rasa aman secara psikologis (Elizabeth B Hurlock, 1991).
Rasa aman yang diperoleh siswa mempunyai sumbangan yang sangat besar untuk menciptakan situasi belajar yang nyaman. Ini menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan belajar. Situasi lain yang ditimbulkan dari rasa aman adalah terciptanya hubungan yang akrab antara guru dan siswa. Hal ini akan memudahkan siswa berinteraksi dan berani mengutarakan kesulitan-kesulitan belajar yang muncul.
Karena itu, jika ''aset pribadi'' siswa ini bisa diolah oleh guru, situasi rasa aman pastilah tercipta dan dapat dipastikan akan berpengaruh positif terhadap hasil belajar. Contoh perilaku sederhana namun berpengaruh besar tadi misalnya guru memberi sapaan-sapaan kepada siswa-siswanya, menanyakan kabar mereka, memotivasi dan membantu kesulitan belajar yang dialami siswa.
Contoh prilaku di atas tampaknya sangat sederhana, namun siswa akan merasa diperhatikan dan diakui keberadaannya. Situasi inilah yang akan mengangkat harga diri siswa. Namun dalam kenyataan sehari-hari masih banyak ditemui kendala-kendala. Guru cenderung melihat anak yang pandai, memberi penghargaan kepada siswa yang pandai saja, sedangkan siswa yang lain terabaikan.
Situasi demikian inilah yang nyata biasa terjadi dan dapat memperburuk harga diri siswa yang berprestasi kurang yang seharusnya justru mendapat prioritas. Contoh lain, guru memberi target untuk siswa tertentu bahwa dia harus mendapat peringkat I atau II, di satu sisi maksud guru baik yaitu memberi semangat dan membuat siswa menjadi terobsesi untuk mencapai target tersebut.
Namun jika kenyataannya tidak seperti yang ditargetkan guru tadi maka reaksi spontan yang biasa muncul dari guru adalah ucapan ''Kenapa sih, kamu kok tidak bisa meraih peringkat I, kamu mengecewakan saya'', atau bisa jadi ''Kenapa sih, kamu bodoh, soal begitu mudah kok enggak bisa nilai 10?''. Masih banyak lagi reaksi-reaksi spontan lainnya yang tidak disadari oleh guru dapat menjatuhkan harga diri siswa, merendahkan kemampuan siswa, tidak menghargai usaha belajar siswa, bahkan ada penolakan dari guru.
Situasi seperti di atas akan menghilangkan kenyamanan belajar siswa karena siswa merasa tidak aman, takut mengecewakan guru, dan akhirnya berpengaruh terhadap semangat, antusias, bahkan motivasi belajar siswa menjadi kendur. Bisa jadi lama-kelamaan semangat itu akan hilang.
Beberapa kejadian yang mungkin dan biasa terjadi seperti di atas hendaknya bisa memberi aspirasi dan menjadi bahan refleksi bagi guru bahwa pengangkatan harga diri siswa dan situasi nyaman, aman dalam belajar adalah modal yang sangat luar biasa untuk menghasilkan sesuatu yang luar biasa pula. Guru hendaknya menyadari keberadaan siswa dengan segala kelebihan dan kelemahannya sebagai seorang pribadi. Penyadaran akan kelebihan dan kelemahan siswa ini merupakan modal awal yang harus diketahui dan dikuasai oleh guru agar dapat memberikan perlakuan yang tepat bagi siswa-siswinya.

Tidak ada komentar:

Sekedar Hiburan